Skip to main content

Posts

Self Healing dengan "Decluttering" di Rumah

Salah satu tantangan ketika harus #StayatHome selama sebulan lebih adalah bagaimana mengelola emosi agar tetap stabil. Ya, mood swing lebih bisa terpicu saat semua anggota keluarga mulai bosan dengan aktivitas di dalam rumah. Anak-anak pun mulai mengeksplorasi semua sudut rumah dengan mainan yang berceceran. Lengkap dengan pemandangan cucian piring yang tak henti, seolah sedang di restoran 🤣. Namun, insyaAllah tetap banyak hal positif yang membahagiakan. Nah, tentang pemandangan rumah yang berantakan, perabot yang tak tersusun rapi di tempatnya, bagi sebagian orang tak jadi masalah. Namun, bagi sebagian yang lainnya bisa menjadi pemicu stress yang luar biasa. Termasuk membuat mudah terpacu emosi dan mood tak karuan. Saya pribadi saat ini berada di fase yang bisa "mentoleransi" keadaan rumah yang kurang ideal dengan alasan menjaga "kewarasan". Tentu bukan berarti membiarkan rumah berantakan dan tak dibersihkan. Namun, lebih kepada menurunkan standar, tak...

Perlukah Kita "Mendetoks" Tubuh dan Pikiran Kita?

Tak terasa #tantangan30hari beberapa hari lagi akan usai. Namun, sejatinya ini hanyalah sebuah awalan, ajang latihan bagi saya pribadi melatih konsistensi dalam proses belajar yang saya lewati. Satu hal yang saya syukuri selama menjalani proyek "Self Healing" yaitu saya berani untuk jujur mengekspresikan emosi dan menerima kekurangan dan kelebihan diri, tanpa harus "menghakimi" dan membuat rendah diri. Kekurangan dan ketidaksempurnaan justru semakin mengingatkan saya tentang proses belajar yang tanpa henti, menjadi sebuah "nilai" tersendiri bahwa kita telah melakukan sebuah perjuangan untuk menemukan makna kehidupan. Hari ini, jujur saya kurang bersemangat untuk menjalankan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Biasanya malam sebelum tidur atau sebelum subuh saya merapikan catatan, terkadang jika tak sempat, saya berikan jeda waktu untuk berkontemplasi, mengingat amanah-amanah yang harus ditunaikan hari ini. Namun, ada satu hal yang harus saya sadari,...

Self Healing dengan Melakukan "Gratitude Therapy"

Ketika di tahapan "Ulat-Ulat" saya banyak belajar di keluarga manajemen emosi. Saat itu, khususnya di subkelas "Self Healing B" ada beberapa teman di kelas Bunda Cekatan yang berbagi tentang "Gratitude Therapy" atau dikenal dengan jurnal syukur. Kemudian ada beberapa orang yang ikut tantangannya. Kita diminta untuk menuliskan minimal sepuluh hal yang kita syukuri di hari itu dengan tulisan tangan minimal selama 21 hari secara konsisten serta ada beberapa panduan lainnya. Namun, mungkin ada beberapa yang berhenti di tengah jalan karena belum bisa konsisten menulis dengan tulisan tangan ataupun aspek teknis lainnya. Dan saya pribadi merasakan tantangan itu. Akhirnya dari hasil evaluasi tersebut, saya pribadi mencoba mengambil benang merah dari "gratitude therapy" ini, yaitu fokus kepada filosofi dan tujuannya, bukan kepada media atau teknis lainnya. Saya mencoba memodifikasi jurnal syukur ini sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas saya, kunciny...

Membahagiakan Diri dengan Mengobrol dengan Orang Tercinta

Mayoritas dari kita mungkin sudah tidak asing lagi mendengar riset tentang kebutuhan wanita untuk mengeluarkan 20.000 kata perhari. Tentu itu sangat relatif dan personal juga sifatnya. Namun, bagi saya pribadi pernyataan tersebut ada benarnya juga, saya pribadi merasakan benar hal itu. Apalagi saya tipe orang yang memang senang bercerita. Pola pengasuhan orang tua saya di rumah, mungkin juga berpengaruh terhadap hal ini. Kami dibiasakan untuk saling terbuka, ngobrol, dan mengekspresikan apa yang kami rasakan. Alhamdulillah hal itu menjadikan saya dan saudara saya yang lain selalu berpikir bahwa orangtua dan keluarga adalah tempat ternyaman untuk bercerita. Selama melakukan proyek "Self Healing" ini akhirnya saya mencoba mempraktekkan beberapa teori yang relevan untuk diaplikasikan. Misalnya saja tentang manfaat mengobrol sebagai bentuk self care sekaligus self healing , terutama bagi para ibu. Saya sendiri sempat merasakan "jetlag" ketika memutuskan ber...

Puasa dengan Mengatur Jam Online

Pekan sebelumnya saya sudah melakukan puasa media sosial (FB dan IG). Hasilnya alhamdulillah hampir memenuhi target. Saat itu saya mendapat empat badge excellent. Namun, evaluasinya yaitu tantangan yang saya tetapkan kurang menantang. Akhirnya, di pekan ini saya menetapkan untuk melanjutkan puasa minggu ke-2 untuk menguji konsistensi saya, sekaligus menambah puasa minggu ke-3 ini dengan mengatur jam online Setelah melalui puasa pekan ke-2, ada beberapa catatan yang mendorong saya untuk mengatur jam online di pekan ini. Pertama , ketika saya berhasil membuka media sosial hanya satu kali dalam sehari, ternyata ada hari di mana durasi saya membuka IG cukup lama. Mungkin efek seolah baru "buka puasa" 🤭, jadi segala ingin dimakan, wkwkwk. Alhasil, hal tersebut tetap menghambat produktivitas saya dalam beraktivitas. Kedua , jam online ini secara tidak langsung berpengaruh pada proyek self healing yang sedang saya lakukan di #tantangan30hari, misalnya saja tentang tidu...

Latihan Self Healing dengan "Positive Self Talk"

Kapan terakhir kali kita berbicara dengan diri sendiri? Mungkin pertanyaan itu agak sedikit menggelitik ya. Banyak di antara kita yang mungkin tak terpikir untuk melakukan "self talk" atau berbicara dengan diri sendiri. Nah, setelah saya fokus mempelajari self healing , akhirnya saya mencoba mempraktekkan self talk ini dalam keseharian. Dan alhamdulillah sejauh ini sudah ada perubahan positif yang saya rasakan. Dalam keseharian kita, seringkali muncul pikiran negatif datang silih berganti. Begitupun perasaan takut dan cemas yang berlebihan. Apalagi jika kita sedang dihadapkan pada suatu masalah. Entah itu masalah kesehatan, finansial, dsb. Tak jarang kita memberikan stigma negatif atau "labelling" kepada diri kita sendiri. Tanpa sadar jika itu terus dilakukan maka akan membentuk self image negatif pada diri kita sendiri. Saya pribadi pernah ada di posisi itu. Apalagi dengan tipe yang memang sedikit sensitif, tentu stimulus eksternal maupun internal sanga...

Menerapkan "Mindfulness Parenting" di dalam Keluarga

Setelah kemarin saya berlatih mindfulness secara personal, hari ini saya mencoba untuk mengaplikasikan ini dalam keluarga. Ya, mindfulness bisa diaplikasikan dalam proses pengasuhan. Secara teori, konsep ini memiliki banyak manfaat jika diterapkan di dalam keluarga. Salah satunya yaitu untuk meningkatkan kelekatan antara anak dan orangtua serta memperbaiki pola komunikasi di dalam keluarga. Sebelumnya saya mencoba mengevaluasi dahulu, sejauh ini apa saja yang mengganggu kami dalam proses pengasuhan anak-anak? Pertama , terkadang kami masih terdistraksi saat mendampingi anak-anak bermain dan belajar, misal dengan masih sibuk membuka HP, meskipun hanya sebentar saja,  sekedar mengecek pesan. Kedua , terkadang kami masih kurang peka ketika "alarm" dari anak-anak mulai berbunyi, yaitu ketika mulai ada yang merengek dan menangis, kadang kami masih fokus dengan pekerjaan masing-masing. Tak jarang mengambil solusi instan sekedar berkata " kenapa sih nangis, udah..udah.. ...