Skip to main content

Posts

Puasa Media Sosial untuk Meningkatkan Produktivitas

Pekan pertama di tahapan kepompong, saya memutuskan untuk puasa dari distraksi saat beres-beres rumah. Nah, di pekan kedua ini, saya memutuskan untuk puasa media sosial (Instagram dan Facebook). Intinya masih seputar puasa dari berbagai hal yang menjadi distraksi ketika saya melakukan aktivitas, khususnya yang secara langsung berpengaruh terhadap produktivitas saya. Latar belakang saya memutuskan untuk puasa media sosial khususnya instagram dan facebook adalah sebagai bentuk rangkaian "manajemen gadget" yang ingin saya perbaharui. Saat ini, gadget seperti dua sisi mata uang, yang jika kita tidak pandai mengelolanya bisa menghambat produktivitas kita. Begitupun sebaliknya jika kita mampu mengelolanya dengan bijak, justru bisa membantu melejitkan produktivitas kita. Ya, sekali lagi kuncinya ada pada manajemen.  Kenapa saya hanya puasa dua media sosial ini (IG & FB) ? Pertama , karena memang puasa  media sosial perdana ini tujuannya lebih untuk mengetahui ketahanan sa...

Program Self Healing dengan "Konmari Gadget"

Pekan kemarin, selama seminggu saya memilih untuk melakukan puasa media sosial (IG & FB). Memang saya tidak puasa seluruh media sosial. Apalagi dalam kondisi #stayathome begini, otomatis banyak kegiatan di luar rumah yang harus dialihkan di dalam rumah. Jadi, secara otomatis saya masih sangat membutuhkan berbagai informasi dan media untuk bisa terkoneksi dengan dunia luar. Salah satu tantangan terberat adalah filter informasi di tengah "tsunami informasi" yang sudah semakin tidak terbendung lagi. Sejak terjadi pandemi Covid-19 hampir setiap hari ada saja berita hoax yang disebar orang. Maka, penting bagi saya untuk melakukan self healing dengan melakukan "digital detoks". Namun, hari ini saya ingin mempraktekkan terlebih dahulu  self healing  dengan melakukan "konmari gadget". Saya memakai istilah ini untuk menggambarkan proses beres-beres gadget dari berbagai hal yang menjadi distraksi dan mengganggu produktivitas.  Kenapa saya berpikir bahw...

Self Love sebagai Upaya Memahami Diri Sendiri

Istilah self love mungkin saat ini mulai familiar didengar oleh kita. Biasanya istilah ini sering dipakai ketika orang-orang membahas kasus body shaming. Bahkan akhirnya istilah ini bagi sebagian orang seolah dekat dengan makna "kebebasan". Misalnya saja, beberapa orang menganggap bahwa tubuhnya adalah otoritasnya, yang bebas dia kenakan pakaian seperti apa.  Bagi saya pribadi, di tahap relearn ini adalah proses untuk memfilter informasi, meramu sekaligus mempraktekkan ilmu yang dinilai cocok dengan kebutuhan kita serta sesuai dengan prinsip   kehidupan kita. Sebelum mempraktekkan sebuah ilmu, saya harus memastikan landasan filosofis ilmu tersebut, apakah bertentangan dengan syariah Islam atau tidak. Tentu karena saya seorang muslim dan saya tidak mau sekedar mengikuti "tren" yang berkembang di masyarakat.  Self love dalam proses self healing menjadi bagian penting. Artinya, banyak orang yang sulit move on, sembuh dari luka pengasuhan dan trauma lainnya...

Weekend: Saatnya Relaksasi!!

Hari ini saya mengawali jurnal ini dengan mengucap syukur alhamdulillah. Jika hari kemarin saya berada di kondisi emosi yang tidak stabil ditambah dengan kelelahan fisik, alhamdulillah hari ini hari saya begitu penuh energi. Kemarin, selesai menuntaskan menulis jurnal, saya memutuskan untuk menyelesaikan tugas-tugas lain yang biasanya menjadi distraksi saya sebelum tidur. Ya, harapannya hanya satu, saya ingin tidur nyenyak!. Meskipun akhirnya saya harus tidur larut, alhamdulillah pagi hari badan saya sudah lebih fresh , dengan menyisakan sedikit pegal-pegal di badan karena kelelahan hari sebelumnya. Dengan "alarm" badan yang memang memberi sinyal untuk istirahat, akhirnya pagi hari di weekend ini saya tidak fokus kepada kondisi rumah dan pekerjaan domestik yang harus dikerjakan. Saya fokus untuk membuat mood  saya saat mengawali hari ini dengan perasaan senang, berenergi dan penuh semangat. Karena saya tahu, saat ini hal itu menjadi sesuatu yang saya butuhkan. Jad...

Ketika Perjalanan Begitu Melelahkan

Hari ini, tepat di hari ke-12 #tantangan30hari ada perasaan yang sedikit berbeda dari sebelas hari sebelumnya. Ya, saya harus jujur bahwa hari ini saya merasa kekelahan dan butuh menepi sebentar. Aktivitas belajar online yang cukup padat hari ini, pun amanah memandu diskusi serta aktivitas domestik lainnya membuat saya sadar ada sesuatu yang harus dibenahi, terutama terkait manajemen waktu. Alhamdulillah bekal ilmu yang saya dapatkan di tahap ulat-ulat, setidaknya bisa menjadi "alarm" pengingat saya untuk bisa menyadari apa yang saya perlukan saat ini. Ya, mengenal kebutuhan dasar diri saya pribadi serta mengenal emosi yang saya rasakan setidaknya bisa membantu saya untuk memberikan respon yang tepat dalam situasi seperti ini. Menulis adalah salah satu terapi self healing yang saya lakukan. Dan itupun yang mendorong saya untuk secara spesifik fokus menjalani #tantangan30 hari dengan menghasilkan satu tulisan jurnal pembelajaran dan satu quotes penyemangat untuk say...

Bahagia bersama Al-Qur'an

Ketika berbicara tentang self healing , mungkin sebagian orang berpikir bahwa hal tersebut dibutuhkan untuk orang yang "bermasalah". Namun, setelah saya belajar di keluarga manajemen emosi serta keluarga manajemen ruhiyah dan ibadah, kini persepsi saya berubah. Bagi saya pribadi, self healing bisa   dilakukan oleh siapapun dan kapanpun. Karena yang saya rasakan self healing merupakan proses agar kita sadar dan paham dengan diri kita sendiri. Salah satunya adalah bagaimana untuk menghadirkan kebahagiaan di segala kondisi.  Dan ini sangat menantang sekali! Dalam kondisi ditimpa musibah pandemi Covid-19, emosi seringkali tak terkontrol. Rasa takut, cemas, sedih begitu mendominasi. Namun, bukankah kita diperintahkan untuk menghadirkan syukur dan sabar di hati? Maka, ke mana kita akan berlari? Proyek self healing yang saya lakukan sebelas hari terakhir ini telah membuka mata saya, bahwa penting bagi diri kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat kita bahagia? Be...

Mencari Sumber Ketenangan Jiwa

Proyek "Self Healing" yang saya lakukan tak terasa sudah sepuluh hari dikerjakan. Alhamdulillah, sampai di titik ini banyak hal yang saya syukuri, yaitu saya merasa bahagia menjalani senua ini. Meskipun ada badge , ada pengumpulan jurnal, namun karena menulis justru bentuk terapi bagi saya, maka tidak ada beban yang menuntut saya harus mengikuti standar orang lain. Cara belajar pun disesuaikan dengan kenyamanan saya pribadi. Alhasil dalam perjalanannya banyak "aha momen" yang saya dapatkan, sehingga saya menjalankan proyek ini mengikuti ritme hati saya secara dinamis. Buku "Revive Your Heart" karya Ust. Nouman Ali Khan, menjadi salah satu buku yang saya jadikan rujukan saat mempelalajari tentang tazkiyatun nafs. Dan review buku ini sempat saya bagikan di keluarga manajemen ruhiyah dan ibadah. Nah, salah satu hal yang membuat saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca adalah bagaimana beliau selalu membahas satu tema dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur...